Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Masa Depan Anak-Anak Indonesia di Era Digital

Senin, 09 Februari 2026 | 22:06 WIB Last Updated 2026-02-09T15:06:58Z
Di rumah-rumah sederhana hingga apartemen perkotaan, di kampung pesisir hingga lorong-lorong padat kota, satu pemandangan kini sama: anak-anak tumbuh dengan layar di tangan. Dunia mereka tidak lagi hanya selebar halaman sekolah, lapangan bola, atau halaman masjid. Dunia mereka telah meluas—tanpa batas—ke ruang digital. Pertanyaannya bukan lagi apakah anak-anak Indonesia akan hidup di era digital. Mereka sudah berada di dalamnya.

 Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: ke mana arah masa depan mereka akan dibentuk oleh teknologi yang kita biarkan tumbuh tanpa kompas nilai?
Digital bukan sekadar alat, tetapi lingkungan hidup Bagi generasi tua, teknologi adalah alat.
Bagi anak-anak hari ini, teknologi adalah lingkungan hidup.

Di sanalah mereka belajar berbicara, meniru perilaku, membangun identitas, mencari pengakuan, bahkan membentuk harga diri. Media sosial, gim daring, dan algoritma video pendek telah menjadi “ruang kelas” yang jauh lebih sering mereka masuki dibanding ruang kelas formal.

Masalahnya, ruang digital tidak dibangun untuk mendidik.
Ia dibangun untuk menarik perhatian, menahan emosi, dan memperpanjang waktu menatap layar.

Di balik layar yang tampak netral, bekerja sistem yang mengukur setiap klik, setiap jeda tatapan, dan setiap emosi. Anak-anak tidak sedang berhadapan dengan teknologi biasa, melainkan dengan industri perhatian.

Ancaman terbesar bukan kecanduan, tetapi pembentukan karakter
Banyak orang tua masih melihat masalah digital sebatas pada kecanduan gawai, waktu layar, atau nilai pelajaran yang menurun. Padahal ancaman yang jauh lebih dalam adalah pembentukan karakter yang perlahan berubah tanpa disadari.

Anak-anak belajar:
bahwa popularitas lebih penting daripada kejujuran, bahwa viral lebih bernilai daripada benar,
bahwa penampilan lebih penting daripada adab, bahwa sensasi lebih dihargai daripada kerja sunyi.
Di sinilah masa depan anak-anak Indonesia dipertaruhkan.

Kita sedang membiarkan generasi tumbuh dalam ekosistem yang mengajarkan:
cepat, instan, dangkal, reaktif, dan penuh validasi semu. Jika tidak disadari, bangsa ini bukan hanya menghadapi krisis literasi, tetapi krisis makna.

Indonesia butuh generasi digital yang beradab, bukan hanya cakap teknologi
Narasi besar pemerintah selama ini sering berhenti pada kata-kata:
literasi digital, talenta digital, startup, kecerdasan buatan, ekonomi digital.

Semua itu penting. Tetapi ada satu kata yang terlalu jarang disebut: akhlak digital.
Anak-anak Indonesia tidak cukup disiapkan menjadi:
programmer,
konten kreator,
pebisnis daring,
atau pekerja teknologi.
Mereka harus disiapkan menjadi manusia digital yang beradab.

Karena kecakapan tanpa karakter hanya akan menguatkan kerusakan.
Teknologi tanpa etika hanya akan mempercepat kehancuran sosial.
Di ruang digital hari ini, kita melihat bagaimana: ujaran kebencian tumbuh tanpa rasa bersalah, perundungan terjadi tanpa wajah,
fitnah menyebar tanpa tanggung jawab,
dan eksploitasi anak kerap disamarkan sebagai hiburan.
Anak-anak kita menyerap semua itu sebagai “kenormalan”.

Orang tua sering kalah cepat, sekolah sering kalah sistem Kenyataannya, sebagian besar orang tua kalah cepat dari teknologi.
Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak dibekali. Banyak orang tua:tidak memahami algoritma,
tidak mengerti sistem rekomendasi,
tidak tahu bagaimana konten membentuk pola pikir anak.

Sementara sekolah, yang seharusnya menjadi benteng nilai, sering kali justru tertinggal oleh kurikulum yang masih fokus pada hafalan, bukan pada kecakapan hidup digital.

Padahal hari ini, anak tidak hanya perlu tahu cara menggunakan internet, tetapi perlu tahu: bagaimana menyaring informasi,
bagaimana membedakan opini dan fakta,
bagaimana menjaga diri dari manipulasi digital,
bagaimana mengelola emosi di ruang maya.

Tanpa itu, sekolah hanya menjadi tempat belajar teori, sementara dunia digital menjadi tempat pembentukan kepribadian.
Anak-anak Aceh, anak-anak Indonesia, berada di persimpangan yang sama
Sebagai bangsa yang kuat dengan nilai agama dan budaya, termasuk di Aceh yang menjunjung tinggi adab, marwah, dan akhlak, tantangan digital seharusnya dibaca lebih serius.

Era digital sedang menguji:
sejauh mana keluarga masih menjadi sekolah pertama,
sejauh mana agama masih menjadi kompas, sejauh mana budaya masih menjadi penanda jati diri.

Anak-anak Aceh hari ini mengakses dunia yang sama dengan anak-anak di kota global. Tetapi tanpa fondasi nilai yang kuat, globalisasi digital justru bisa menjadi proses pemutusan identitas.
Yang tersisa hanya tiruan gaya hidup, bahasa, dan perilaku, tanpa ruh kebudayaan.

Negara tidak boleh hanya hadir sebagai regulator platform Negara sering hadir dalam isu digital hanya pada aspek:
pemblokiran,
penertiban konten,
dan regulasi teknis Itu perlu, tetapi tidak cukup.

Masa depan anak-anak Indonesia di era digital menuntut negara untuk berani membangun kebijakan pendidikan karakter digital yang serius dan sistematis, bukan sekadar proyek sosialisasi.
Negara harus memastikan bahwa:
Literasi digital masuk sebagai pendidikan karakter, bukan sekadar keterampilan.
Guru dibekali pelatihan etika digital, psikologi media, dan perlindungan anak di dunia maya.

Sekolah memiliki kurikulum perlindungan diri digital bagi siswa. Orang tua dilibatkan sebagai mitra utama, bukan hanya penerima brosur.
Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah jurang antara anak dan orang tua yang semakin lebar.

Masa depan tidak ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh nilai yang menyertainya Teknologi tidak pernah netral. Ia selalu membawa nilai dari siapa yang merancangnya dan untuk tujuan apa ia diciptakan.

Jika anak-anak Indonesia tumbuh dalam sistem digital yang: mengajarkan konsumsi tanpa kesadaran, menormalisasi kebencian,mempromosikan popularitas semu, dan mengabaikan empati,maka jangan heran jika di masa depan kita memiliki generasi yang:
pandai, tetapi miskin kebijaksanaan;
cepat, tetapi kehilangan arah;
berani bicara, tetapi takut bertanggung jawab.

Sebaliknya, jika sejak dini anak-anak dipandu untuk memahami bahwa dunia digital adalah ruang amanah, bukan sekadar ruang bebas, maka teknologi justru dapat menjadi alat kebangkitan peradaban.

Penutup: menyelamatkan masa depan, dimulai dari hari ini
Masa depan anak-anak Indonesia di era digital tidak sedang ditentukan oleh kecanggihan gawai, kecepatan internet, atau kecerdasan buatan.
Ia sedang ditentukan oleh satu hal yang jauh lebih sunyi: keseriusan kita membangun nilai di tengah derasnya teknologi.

Jika hari ini orang tua memilih diam,
sekolah memilih berjalan biasa-biasa saja,
dan negara memilih cukup dengan regulasi permukaan,maka anak-anak akan tumbuh dalam dunia yang ramai informasi, tetapi miskin tuntunan.

Di tangan generasi digital inilah, Indonesia kelak akan berdiri atau tergelincir.
Dan sejarah akan mencatat:
bukan teknologi yang gagal,
melainkan kita—orang dewasa hari ini—yang terlambat menjaga arah masa depan mereka.