Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Aceh Merdeka, Ya Allah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 02:20 WIB Last Updated 2026-08-25T19:21:04Z
Aceh merdeka—sebuah kalimat yang bagi sebagian orang bukan sekadar slogan, tetapi doa tentang harga diri, keadilan, kesejahteraan, dan masa depan rakyat Aceh.

Namun, jika kita benar-benar mencintai Aceh, kemerdekaan tidak boleh hanya dimaknai sebagai teriakan politik. Kemerdekaan harus berarti rakyat tidak lagi hidup dalam kemiskinan, tanah rakyat tidak dirampas, hutan tidak dihancurkan, pendidikan tidak dianaktirikan, dan hukum tidak tajam kepada rakyat kecil tetapi tumpul kepada mereka yang memiliki kekuasaan.

Aceh telah mengalami konflik panjang. Darah telah tumpah, keluarga kehilangan orang tercinta, dan generasi tumbuh dalam bayang-bayang trauma. MoU Helsinki seharusnya menjadi jalan untuk membangun Aceh yang damai, bermartabat, dan sejahtera.

Maka hari ini, ketika kita berucap, “Aceh merdeka, Ya Allah,” hendaknya yang kita minta bukanlah kembalinya peperangan. Yang kita minta adalah kemerdekaan dari kemiskinan, kemerdekaan dari ketidakadilan, kemerdekaan dari korupsi, dan kemerdekaan dari keserakahan yang menghancurkan tanah serta hutan Aceh.

Aceh tidak membutuhkan konflik baru. Aceh membutuhkan keberanian baru—keberanian pemerintah menegakkan hukum, keberanian rakyat mengawal demokrasi, dan keberanian generasi muda memperjuangkan masa depan tanpa kekerasan.

Aceh merdeka, Ya Allah—merdeka dalam keadilan, merdeka dalam kesejahteraan, merdeka dalam martabat, dan merdeka dalam kedamaian.

Jangan sampai generasi hari ini mewariskan luka kepada generasi berikutnya. Biarlah perjuangan Aceh diteruskan dengan ilmu, hukum, demokrasi, dan persatuan.

Aceh harus bangkit. Aceh harus bermartabat. Aceh harus sejahtera.